Saturday, January 1, 2022

FAREWELL 2021

January 01, 2022 0

Rasanya baru kemarin saya menulis tentang RESOLUSI 2021 saya. Sekarang kalo saya melihat buku yang saya pinjam dari seorang teman rasanya mau menertawakan diri sendiri. Saya bahkan lupa sudah berapa banyak buku yang berhasil saya baca. Mestinya dulu saya menulis resolusi membeli minimal 3 buku saja. Dengan begitu satu resolusi saya sudah terpenuhi. Tapi yang sudah berlalu biarlah berlalu. 


Awal tahun 2022, saya tidak akan membuat GRATITUDE LIST seperti yang saya buat di tahun lalu. Bukan karena saya tidak bersyukur, tapi memang tidak mau saja. Sebagai gantinya saya akan flashback singkat ke tahun 2021 yang munurut saya lumayan banyak menguji kesehatan fisik dan mental. Awal tahun diawali dengan ART yang resign. Drama ART juga berlanjut hingga sepanjang tahun. Cukup untuk membuat saya peka terhadap kemunafikan orang lain dan memberi pelajaran berharga kalau sebisa mungkin tetap pasang batasan kepada ART dan tidak terlalu bergantung pada mereka. 


Mengurus anak sekaligus mengurus pekerjaan rumah di waktu yang sama juga harus menyelesaikan pekerjaan kantor sempat beberapa bulan saya rasakan. Mulai dari senang, bersyukur, marah, malu dengan rekan kerja, lelah hingga menangis saat menidurkan anak-anak sudah penah saya rasakan. Konsultasi ke psikolog pun akhirnya saya lakukan walaupun secara online dan dirasa tidak memberikan efek apapun. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan membuat saya lelah fisik dan juga mental begitu kata psikolognya.


Satu bulan sempat 'bersantai sedikit' karena mendapatkan ART pengganti, cobaan kembali datang saat kami sekeluarga harus tepapar COVID. Kembali saya harus merasakan mengurus semuanya sekaligus ditambah dalam kondisi sakit dan harus mengurus semua anggota keluarga yang sakit. Bukan hanya lelah dan kesal, saat itu saya sangat marah dengan suami saya yang abai menjaga protokol. Tidak mau memisahkan diri dengan anggota keluarga lain yang sehat, tidak mau ke dokter saat gejala awal timbul bahkan memarahi saya di depan anggota keluarga lain karena saya memaksa untuk ke dokter. Rasanya sudah habis kesabaran saya. Sejak kejadian itu, tidak pernah lagi saya menahan diri untuk tidak menegur kalau perlu dengan nada tinggi jika memang diperlukan. 


Setelah kami semua sembuh, masalah ART kembali datang. tidak perlu dijelaskan secara detail. intinya saya sudah mulai terbiasa tanpa ART dan berjanji tidak akan pernah bergantung pada mereka jadi semua masih bisa terkendali bahkan alhamdulillah diberikan pengganti yang lebih baik. Ditambah 3 bulan setelah itu harus berkerja ekstra karena kekurangan beberapa anggota tim di unit tempat berkerja. Bulan desember disegarkan dengan road trip sekeluarga yang walaupun tidak sesempurna bayangan karena adik naya sakit selama disana, tapi sangat menyebuhkan batin terhadap rasa lelah sepanjang tahun 2021.


Tahun 2021 ditutup dengan keikutsertaan saya dengan program semacam pensiun dini dari perusahaan yang mana saya harap bisa lebih mempererat hubungan kami sekeluarga, menjadi pembuka pintu rezeki yang lebih besar untuk keluarga ini dan memberikan suasana baru untuk diri saya sendiri saat saya berkerja di perusahaan lain nanti. Walaupun sampai malam ini perngajuan saya masih di tolak tapi saya tetap percaya bahwa Allah telah mempersiapkan rencana terbaikNya untuk kami.


Dibalik itu semua, saya menyadari kalau ujian yang diberikan ke saya sepanjang tahun lebih menguatkan peran saya sebagai seorang ibu sekaligus suami sebagai seorang ayah. Tidak ada lagi konsep patriaki, semua pekerjaan rumah dan mengurus anak dikerjakan berdua seperti halnya dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Anak-anak juga menjadi sangat dekat dengan ayahnya. Tidak ada lagi rengekan yang hanya bisa dihentikan oleh mama. Sekarang ayah juga bisa membuat rengekan berhenti. 




Salam Sayang,






Saturday, December 25, 2021

ROAD TRIP MASA PANDEMI DENGAN 2 TODDLER

December 25, 2021 0
Sudah hampir 3 tahun kami sekeluarga tidak bersilaturahmi langsung dengan keluarga besar di Solo. Alhamdulillah, pertengahan desember kemarin, kami berkesempatan untuk melakukan itu sekaligus road trip dengan keluarga. Karna sudah ditunggu-tunggu, persiapan juga sudah saya lakukan dari jauh-jauh hari. Cukup khawatir juga mengingat ini perjalanan jarak jauh pertama Adik kenzie dan Adik Naya ditambah masih kondisi pandemi walaupun sudah diberi lampu hijau alias aman bepergian oleh pemerintah. Tapi karena rasa rindu kanmpung halaman ditambah jenuh dengan rutinitas. akhirnya kami memberanikan diri. Tentunya tetap dengan protokol yang ketat.
Kami berangkat menggunakan 2 mobil tanggal 10 Desember kemarin pukul 05:30 sore. Melenceng sedikit dari rencana awal yang seharusnya berangkat usai sholat jumat sebelum waktu Ashar. 
Perkiraan kami bisa sampai di rest area sekitar pukul 8 malam untuk makan malam tapi diluar dugaan, lalu lintas sangat padat di dalam tol sehingga kami baru bisa melipir ke rest area sekitar pukul 10 malam! untungnya Eyang uti sudah menyiapkan sekotak nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya untuk masing -masing mobil. Setidaknya anak-anak bisa masih bisa makan malam tepat waktu sebelum sampai rest area. 
Sedangkan yang dewasa harus bersabar dengan cemilan yang ada di dalam mobil sampai menemukan rest area. Untungnya selarut itu masih ada mini market dan restoran yang buka.  Yah, walaupun akhirnya kami harus makan dengan menu seadanya. Tapi justru itulah seni dari road trip.
Selama di rest area, selain untuk peregangan, kami juga menggunakan waktunya untuk ke kamar kecil, menggantikan popok kidos, membeli beberapa cemilan atau minuman dan juga bensin. Ribed memang. Belum lagi kami harus tetap jaga protokol. sedikit2 semprot desinfektan dan hand sanitizer. tapi alhamdulillah kidos Happy, tidak rewel dan penurut selaa di perjalanan.
Perjalanan malam hari rupanya menjadi tantangan untuk Pak Suami dan Adik ipar yang menyetir mobil. Tidak seperti eyang Kung yang semasa muda dulu kuat menyetir sepanjang hari dan malam, semakin lama rasa kantuk semakin tidak tertahan oleh para bapak-bapak. Sampai akhirnya pukul setengah 4 pagi kami sepakat untuk masuk ke rest area terdekat dan tidur. 

Setelah kurang lebih istirahat 2,5 jam. Kamipun melanjutkan perjalanan. Kali ini kami sengaja berhenti di rest area pendopo KM456 B Salatiga karena sudah masuk ke dalam list perjalanan kami. Rest area ini adalah satu-satunya rest area yang berkonsep seperti MALL. plus ada jembatan penghubung dengan rest area di sebrang jalan. Rencana awalnya, kami mau sarapan dulu disini karna sudah masuk waktunya sarapan tapi ternyata pukul 08 pagi belum banyak pilihan tempat makan yang buka. plus kita sudah ditunggu oleh keluarga di SOLO. Akhirnya kami hanya jalan-jalan sebentar, minum kopi, pergi ke toilet dan melanjutkan perjalanan.
Sekitar pukul 10 akhirnya kami sampai di kampung halaman tercinta. Lelah selama perjalanan terbayar sudah dengan bertemu keluarga dan menemani anak-anak jalan-jalan ke sawah. Sedangkan para bapak-bapak yang menyupir langsung melanjutkan hibernasinya setelah mandi dan makan hingga sore hari. hahahahaa...

Sebenarnya perjalan JAKARTA-SOLO sekarang sudah bisa ditempuh dalam waktu 6-8 jam saja. Karena sudah disediakan tol yang bisa memangkas waktu tempuh yang cukup banyak. Tapi karena kami membawa anak kecil dan eyang - eyang yang sudah tidak lagi muda, jadi kami memang harus sering-sering berhenti untuk melakukan peregangan atau sekedar mengganti popok dan ke kamar kecil. Nah, berikut tips yang bisa saya berikan untuk road trip dengan balita :

1.  Siapkan e-toll atau e-money dengan Saldo yang cukup untuk sepanjang perjalanan
2. Siapkan juga uang cash. Pecahan kecil untuk parkir, atau toilet, pecahan lainnya untuk membeli makanan di sepanjang perjalanan. Walaupun sudah banyak yang menggunakan pembayaran non tunai tapi koneksi jaringan yang bermasalah masih sering terjadi.
3. Pastikan mobil dalam keadaan FIT. (terutama AC!) Bawa ban cadangan dan peralatan otomotif lainnya untuk keadaan darurat
4. Persiapkan kenyamanan saat di dalam mobil. Siapkan beberapa bantal dan selimut untuk anak-anak tidur. Karena perintilan anak-anak cukup banyak, siapkan pula car organizer untuk meletakkan barang-barang sehingga bisa kita akses dengan mudah.
5. Bawa mainan kesukaan anak dan persiapkan permainan yang bisa dimainkan di dalam mobil. 
6. Selalu bawa hand sanitizer, tisue basah, tisue kering, lotion atau stiker anti nyamuk dan mini desinfektan di dalam tas kecil yang selalu dibawa kemana - mana.



PACKING LIST

Karena perjalanan jauh dengan mobil, selain barang-barang yang diletakkan di bagasi, kita juga harus mempersiapkan barang-barang yang sekiranya akan kita gunakan di sepanjang perjalanan. Terutama untuk anak-anak. Seperti peralatan untuk ganti pakaian dan popok besernya toiletriesnya. 

PAKAIAN 
untuk urusan packing pakaian, saya tipe yang selalu over packing. hahahaha... Tapi terbukti saya tidak pernah ribed urusan pakaian ketika bepergian jauh bahkan seringnya meminjamkan pakaian saya ke yang lain. Biasanya saya berangkat dari itenerari, memikirkan cuaca dan juga jasa laundy di tempat tujuan. Saya bukan tipe yang sudi ribed urusan domestik ketika liburan. Karena bepergian dengan anak kecil, tidak ada salahnya membawa banyak baju untuk berjaga-jaga kalau main kotor-kotoran atau anak sakit! Pengalaman saya kemarin adik naya sakit selama di Solo. Jadi pakaiannya cepat sekali kotor karena terkena muntahan atau tumpahan obat. Oiya, jangan lupa siapkan juga SET baju ganti anak-anak beserta popoknya dan jaket tebal yang mudah diambil kapanpun dimanapun selama di perjalanan.

TOILETRIES
Bawa mini toiletries yang berisi sabun, sikat gigi, odol, collonge bayi dan minyak telon untuk sepanjang perjalanan dan letakkan di tempat yang mudah dijangkau. Untuk toietries dewasa bisa dibeli di mini market tempat tujuan untuk mengurangi space di koper. Jangan lupa peralatan make up, skin care untuk mama dan kidos yaa

MAKANAN DAN PERALATAN MAKAN
Belajar dari pengalaman, banyak hal-hal yang tidak bisa diduga ketika perjalanan jauh. Entah lalu lintas macet atau hal lain diluar kendali kita. Apalagi membawa anak kecil, asupan gizinya tetap nomor satu supaya badan tetap FIT. Jadi berharap kita bisa mencapai restoran saat jam makan tiba bukan hal yang bijak. Biasanya saya selalu menyiapkan air mineral, kopi / teh untuk bapak-bapak yang menyupir, air termos beisi air panas untuk buat Susu/ kopi, Susu anak, cemilan, roti, dan satu kotak makanan berisi Nasi lengkap dengan lauk pauknya. Karena sedang pandemi, Semua alat makan juga sebaiknya dibawa sendiri dari rumah.
OBAT-OBATAN
Ini sudah persiapkan dari jauh-jauh hari. Mulai dari multivitamin, Segala macam perminyakan, obat-obatan pribadi, obat flu demam anak, obat luka luar lengkap dengan plester dan kain kasanya, tidak lupa termometer anak juga ada di tas ini. hahahaha... Agak lebay memang listnya tapi Alhamdulillah selama di perjalanan dan liburan kemarin saya tidak perlu repot-repot mencari obat-obatan karna semua sudah tersedia. 
MAINAN ANAK
Anak-anak sukses no screen time selama pejalanan kemarin. Padahal saya bahkan sengaja membeli power bank untuk jaga-jaga anak akan menghabiskan batrai HP saya selama di perjalanan. Tapi Ajaibnya anak-anak bahkan tidak pernah meminta HP saya. Di perjalanan kemarin saya membawakan anak-anak kamera mini khusus untuk anak, selain itu beberapa mobil-mobilan kesukaan mereka, mini pad untuk mereka menggambar dan pop it! Saya juga menyiapkan SCAVENGER HUNT untuk membuat mereka sibuk. Walaupun sayangnya terbawa di mobil eyang.

PERANGKAT ELEKTRONIK DAN CHARGER
Walaupun judulnya liburan tapi saya dan suami tetap membawa LAPTOP kerja untuk jaga-jaga jika ada pekerjaan urgent yang harus diselesaikan. Semua jadi 1 di dalam 1 TAS agar lebih mudah mengawasinya. Selain itu HP, charger dan powe bank juga selalu sedia di dalam tas kecil yang saya bawa kemana mana.


Begitulah cerita singkat Road Trip kemarin. Untuk perjalanan pulang kami berangkat dari Yogyakarta dan menempuh waktu justru lebih cepat dan lebih sedikit singgah ke rest area. Semoga pandemi segera berakhir jadi kita semua bisa bersilaturahmi tanpa ada batasan lagi.

Salam Sayang,







Monday, November 29, 2021

HEDGEHOG'S HUG

November 29, 2021 0

 


Hubungan antar manusia itu sangatlah rumit. 


Setuju ? 


Saya Setuju.



Seumur hidup, tidak pernah saya melihat relationship yang sempurna. Tidak pada orang tua saya. Tidak pada keluarga besar saya. Tidak pada saudara - saudara kandung saya. Tidak pada teman - teman saya. Tidak pula pada saya dan pasangan saya. Ketika beranjak dewasa, bertemu dengan seseorang yang cocok dengan anda, anda mulai menyukai orang itu dan mulai terbiasa dengan kehadirannya, anda akan merasa kehilangan ketika ia tidak ada. Semakin anda menyukainya semakin besar resiko anda sakit hati karenanya. Semakin anda membuka hati anda, semakin besar pula kemungkinan anda akan jatuh ketika hubungan anda dengannya tidak berjalan baik. Oleh sebab inilah, beberapa dari kita memilih untuk tidak menjalin hubungan serius dengan pasangan.


Saya sendiri pernah ada di fase itu. Beberapa kali menjalin hubungan singkat dengan orang lain. Prinsip saya ketika itu, Jika memang sudah tidak cocok, lebih baik lekas diselesaikan daripada terlalu lama, akan menjadi terbiasa dan akan makin sulit untuk berpisah. Lebih baik sendiri dan bebas dibanding harus menjalani toxic relationship yang meskipun diluar terlihat bahagia namun di sebenarnya sangat menyiksa. Menjalani hidup tanpa terikat hubungan dengan siapapun membuat saya lebih leluasa bergerak. Bebas berteman dengan siapa saja. Bebas pergi kemana aja dengan siapa saja tanpa berharap apapun dari siapapun. Bahkan pernah saya menolak lamaran laki - laki yang berniat serius menjadi suami saya karena terlalu takut akan kecewa dan pada akhirnya bukannya tetap menjalani hubungan ke arah serius malah mengambil keputusan untuk berpisah agar dia tidak membuang waktunya dengan saya dan bisa mendapatkan yang lebih baik.


Tapi semakin bertambah usia, semakin saya berbagi cerita dan bertukar pikiran dengan orang banyak, semakin saya sadar bahwa ada hal yang lebih penting untuk diperjuangkan daripada ketakutan dan kekhawatiran saya. Hal itu adalah HIDUP. Tidak dapat dipungkiri kalau menjalani hubungan dengan seseorang membawa kebahagiaan dalam hidup saya. Dianggap spesial oleh orang lain, merasa dibutuhkan oleh orang lain, Be someone's miracle is a miracle it self. Terlebih untuk melanjutkan hidup ke tujuan selanjutnya kita tidak bisa sendiri. Seperti saat kita ingin berkeluarga dan memiliki keturunan, itu artinya kita harus memiliki pasangan, menerima segala kekurangan dan kelebihannya beserta keluarga besarnya. 


Lantas bagaimana dengan kekhawatiran di awal tadi? Well, itu adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari. Jadi ya memang harus dihadapi. Jangan sampai keintiman kita malah menyakiti diri sendiri dan orang lain. Caranya? Dengan menghargai privasi atau batasan masing-masing. Untuk hubungan suami istri, Sepakati batasan yang aman terlebih dahulu. Kemudian tetap memberikan ruang untuk pasangan kita melakukan hal yang ia sukai selama hal itu masih di dalam batas 'aman' dan tidak akan merusak komitmen pernikahan. Untuk anggota keluarga lain, tetap terapkan SOPAN dan TATA KRAMA untuk mengenali batasan satu sama lain dan menghargai mereka. Menjadi keluarga bukan berarti kita harus ikut campur semua kehidupan mereka. Dengan tidak masuk atau mengetahui terlalu dalam ke urusan pribadi mereka, kita akan memiliki ruang di otak dan hati kita untuk melakukan hal lain yang lebih membawa kebahagiaan pribadi.


Layaknya landak yang membutuhkan pelukan landak lainnya untuk bertahan hidup saat musim dingin tiba. Tapi disaat yang sama mereka harus saling menjaga jarak agar tidak menyakiti satu sama lain dengan duri yang ada di sekujur tubuh mereka.




Salam Sayang,






Friday, October 29, 2021

SOLUSI KELAS ONLINE ANAK UNTUK IBU BEKERJA

October 29, 2021 0

Disaat pandemi seperti ini, hampir semua aspek kehidupan terkena dampak. Tidak terkecuali aspek pendidikan. Bagi para ibu, pendidikan anak tentunya menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Tidak adanya pembelajaran tatap muka dan terpaksa harus digantikan dengan pembelajaran online membuat sebagian ibu kewalahan karena harus membagi waktu tenaga dan pikiran ke lebih banyak pos dalam waktu yang bersamaan. Tidak terkecuali saya yang harus mengurus perkerjaan kantor sekaligus pekerjaan rumah tangga dan anak-anak. 



Di usia kakak yang memasuki 3.5 tahun, sering terpikirkan untuk mendaftarkannya kelas online. Tujuannya utamanya agar kakak bisa mendapatkan stimulasi yang tepat sesuai usianya. Selain itu agar kakak terlebih dulu bisa menyesuaikan diri sebelum mendaftarkannya ke sekolah tatap muka nantinya. Menyesuaikan diri disini seperti belajar mengikuti instruksi yang diberikan, belajar untuk fokus terhadap kegiatan yang berlangsung, juga belajar untuk melatih motorik halusnya.



Tapi setelah beberapa kali mengikuti kelas online, ternyata ada beberapa kendala yang saya temui :

1. Masih suka hilang fokus di tengah mengikuti kelas. Entah itu keasikan bermain dengan permainan sebelumnya atau mainan lainnya. Jadi akan lebih efektif jika di dampingi langsung.

2. Mood anak masih suka berubah - ubah. Jadi timbul kekhawatiran saya jika waktunya kelas online tapi dia sedang asik bermain atau mengantuk, dia tidak akan bisa mengikuti sekolah online sesuai waktu dan akhirnya malah tertinggal.

3. Sulit mengatur jadwal sekolah dengan jadwal kantor. Terkadang ada rapat yang tidak bisa saya tinggal di jam - jam tertentu, atau pekerjaan yang mendesak harus dikerjakan.



4. Ada gangguan dari si kecil. Karena saya sedang tidak ada bantuan dari Asisten Rumah Tangga, dan biasanya waktu sekolah online pak suami sudah berangkat bekerja, Jadi si adik terkadang suka usil dan ingin ikut belajar dengan kakak.



Sampai suatu saat saya mendapat informasi dari teman saya mengenai Montessori House Asia. Ternyata Montessori Haus Asia (MHA) adalah institusi yang memberikan Pelatihan Montessori bagi para Orangtua dan Guru, MHA juga Mempunyai Divisi Anak - Anak yaitu Sunny Glow Montessori Play School & Pre School. Nah, Sunny Glow montessori memiliki beberapa program belajar di rumah. ada beberapa kelas yang bisa diambil, diantaranya kelas Hi Nature, Hi kids, art class dan matematics class. Semua bisa diambil sesuai dengan usia dan minat anak. 



Kalau biasanya program belajar online mengharuskan kita untuk mendaftar selama 1 semester penuh dengan biaya pendaftaran dan lain nya, kelas di Sunny Glow montesorri ini tidak demikian. Kita cukup membayar untuk kelas yang akan diambil selama sebulan ke depan. Tidak perlu proses pendaftaran yang panjang ataupun biaya yang besar. Cukup membeli tools pembelajaran yang akan di pakai melalui marketplace seperti Shopee atau Tokopedia. Setelah itu kita otomatis terdaftar di kelas dan akan dimasukkan pada grup whatsapp untuk mendapatkan informasi seputar kelas yang akan diadakan dan berinteraksi dengan peserta lainnya. Biayanya pun cukup terjangkau. Mulai dari 150 rb per program untuk minimal 5 - 8 kali online class per bulan. Jika bulan depan ingin mencoba kelas lain, tinggal membeli tools kelas yang dimaksud.

 Kenapa saya bilang ini bisa jadi solusi kelas online untuk ibu bekerja? 

 

Kelasnya sendiri diadakan rata - rata seminggu 2 - 3 kali melalui instagram live montessori_haus_asia. Durasinya bermacam - macam tenggantung kelas yang diikuti. Kemudian, rekamannya akan disipan di IG TV sehingga bisa di akses dan ditoton kembali kapan pun. Jadi kita para orang tua bisa menyesuaikan waktunya. Misal, kita senggang di hari sabtu dan minggu, tinggal kita putar ulang saja rekaman kelas nya di Instagram Story Montessory house Asia dan mendampingi anak - anak berkegiatan. Jadi tidak ada cerita ketinggalan mengikuti kelas.



Salam Sayang,



Friday, September 17, 2021

REKOMENDASI YOUTUBE CHANNEL ANAK BAHASA INDONESIA

September 17, 2021 1

Situasi pandemi ini mengharuskan kita lebih banyak beraktifitas di dalam rumah bersama dengan keluarga. Membersamai anak - anak selama 24 jam penuh dulu mungkin terdengar menyenangkan. Tapi ternyata tidak sepenuhnya benar. Sebagai seorang karyawan yang memiliki 2 anak batita dan sedang tidak ada asisten rumah tangga, saya membutuhkan 'waktu sendiri' untuk menyelesaikan pekerjaan rumah ataupun mengurus urusan kantor tanpa diganggu anak - anak. Setelah 1,5 tahun berjalan, saya akui kalau youtube adalah jalan ninja terbaik untuk sejenak mengalihkan perhatian anak-anak.


Mengingat usia anak- anak yang masih kategori batita, harus pintar-pintar memilih channel youtube sesuai usianya. Apalagi di usia itu anak-anak masih baru belajar berbicara, jadi sebaiknya memang memperkenalkan bahasa ibu terlebih dulu. Nah, berikut ini ada beberapa channel anak berbahasa Indonesia yang saya rekomendasikan :


NUSA DAN RARA


Film animasi buatan anak negri ini sangat disukai anak-anak. Ceritanya ringan dan banyak dan didasari pengajaran-pengajaran islam juga tentang toleransi beragama. Ditambah kondisi Nusa yang tidak sempurna membuat anak-anak bisa belajar bersyukur dengan apa yang mereka punya sekaligus belajar keterbatasan bukan penghalang untuk tetap berprestasi. Sayangnya serial ini sudah tidak eposide baru lagi karena keterbatan dana disaat pandemi.


RIKO THE SERIES


Riko the serries ini menceritakan keseharian anak dengan keluarga dan robot canggihnya yang bernama kyo. Sama seperti Nusa dan Rara, cerita - cerita nya juga berdasarkan pengajaran islam. Bahkan di riko the serries ada murotal-murotal ayat-ayat pendek yang suka saya nyalakan disaat anak-anak asik bermain.

 

BALITA


Nah, kalo ini pasti sudah banyak yang tau. Di channel ini banyak lagu-lagu anak indonesia jaman dulu yang di arasement ulang dengan animasi-animasi menarik. Ada juga lagu - lagu anak lain yg liriknya sangat sederhana jadi anak mudah mengikutinya. Selain itu, banyak juga video - video edukasi anak seperti pengenalan huruf, warna anggota tubuh dan lain lain yang bisa ditonton anak-anak. Percaya atau tidak, Kakak Rey dan Adek Ken banyak belajar berbicara dari channel ini.


SUPER JOJO BAHASA INDONESIA


Super jojo ini lebih banyak video yang menggambarkan tentang keluarga. Karena sebagian besar video nya bercerita tentang kegiatan sehari - hari bersama keluarga. Cocok sekali di situasi pandemi ini yang sebagian besar waktu dihabiskan dengan keluarga. Selain itu banyak juga edukasi - edukasi tentang belajar angka huruf potty training dll.


BABYBUS BAHASA INDONESIA


kalo ini selain tentang keluarga juga lebih banyak mengajarkan anak-anak tentang bersosialisasi dengan teman karena setiap videonya memiliki banyak karakter. Selain itu juga ada lagu-lagu, superhero, cerita tentang profesi kendaraan dan lain lain.


Sementara itu dulu yang masuk ke dalam daftar sambil masih mencari channel-channel bagus lainnya.


Sunday, August 8, 2021

OUR COVID JOURNEY PART #1 (GEJALA DAN CERITA)

August 08, 2021 2

Bulan Juli 2021 merupakan bulan yang paling melalahkan sepanjang tahun ini. Berita tentang kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia, penuhnya RS dan RSDC wisma atlet, tenaga kesehatan yang kewalahan menangani pasien, antrian di depo pengisian oksigen, ditambah dengan berita-berita hoax yang seakan tidak mau ketinggalan untuk meramaikan. Mendengarkan semua berita itu saja sudah cukup menguras emosi ditambah kami sekeluarga harus mengalaminya sendiri. Tertular covid - 19.



GEJALA AWAL



Dimulai dari suami yang mendadak batuk pilek dan demam setelah seharian pergi. Setelah minum obat yang ada di rumah dan istirahat demamnya hilang namun masih tampak meriang. Keesokan harinya pak suami lebih memilih untuk membeli obat di apotek ketimbang langsung cek ke dokter. 2 hari kemudian Qodarullah saya ikut demam dan batuk. Akhirnya saya memaksa suami untuk ke dokter. Di dokter kami di diagnosis ISPA dan dokter menyarankan antigen 2 hari kemudian karena khawatir hasilnya akan negative palsu karena masa inkubasi virus. Malam harinya, Kakak Rey demam tinggi dan mendadak batuk. Disusul adik 2 hari kemudian yang ikut demam tepat di hari kami dijadwalkan antigen. Kecurigaan saya semakin besar dan terbukti dengan hasil antigen saya dan suami yang positif.



SEDIH, PANIK, DAN BINGUNG


Masih di RS, Setelah dapat hasil antigen positive, sambil menunggu dipanggil oleh dokter umum, Shock, sedih, marah dan bingung bercampur jadi satu. Pikiran saya seketika bercabang ke banyak hal. Mencari tes PCR yang bisa mengeluarkan hasil cepat (saat itu banyak RS dan lab yang overload, RS yang kami datangi bisa mengeluarkan hasil PCR paling cepat 3 hari), Memastikan kami sudah mendapat obat-obatan yang tepat, bagaimana mengabarkan kepada orang tua dan kantor, bagaimana keluarga dan orang-orang yang sempat kontak dengan kita, sudah jam makan siang tapi anak - anak belum makan siang. apa yang harus saya lakukan terlebih dulu? 



Sambil menunggu antrian drive thru PCR saya menelpon teman saya yang sedang isolasi. Disitu akhirnya tangis saya pun pecah walaupun hanya beberapa saat. Sekilas saya membayangkan apa gejala apa saja yang mungkin akan muncul pada saya, suami dan anak-anak. Terlebih jika ternyata orang tua saya ikut tertular. Tapi Saya sadar yang saya butuhkan saat ini bukanlah rasa khawatir melainkan informasi yang sebanyak banyaknya dan pemikiran positif yang sebesar besarnya. 

 

Untungnya saya punya teman - teman dan keluarga yang dekat dan sangat suportif. Teman - teman mengirimkan stok makanan yang seketika memenuhi kulkas kami. Orang tua dan adik-adik saya bergantian mengirimkan makanan dan kebutuhan kami setiaap hari. Keluarga mertua yang juga sedang isoman mengirimkan banyak sekali suplemen herbal yang sangat amat membantu. Para tetangga cluster kecil tempat saya tinggal pun mengirimkan makanan, buah-buahan sembako bahkan cemilan dan susu untuk anak-anak saya. Ketua RT tempat saya tinggal juga sangat membantu dan terlihat sangat santai dan berpengalaman menghadapi warganya yang covid. Rekan kerja di kantor pun banyak yang memberi dukungan, terus memberikan informasi, menanyakan kabar dll. Bahkan art yang setiap hari bekerja di rumah menawarkan untuk tetap masuk membantu saya di rumah. 



ISOLASI HARI KE 1 - 3


Gejala yang kami rasakan:


Suami merasakan batuk, pilek dan pegal - pegal sekujur badan terutama pada pinggang. Kakak Rey sudah tidak demam tapi masih sesekali batuk, terutama pada pagi hari. Adik sempat mencret pada malam pertama tapi Alhamdulillah tidak berlanjut di hari berikutnya. Demamnya juga hanya 2 hari pertama. Saya sendiri di 3 hari awal isolasi merasakan batuk, radang tenggorokan, sangat amat cepat lelah, tidak nafsu makan dan sedikit diare.



Keluarga yang sempat kontak dengan kami langsung melakukan tes antigen saat sehari setelah hasil antigen kami keluar dan alhamdulillah semua dinyatakan negative. Jujur, ini adalah berita yang paling melegakan saat itu. Tapi disisi lain, tante dari suami sedang kesulitan mencari ICU karena mengalami sesak nafas akibat covid. Mertua, adik ipar dan kakak ipar yang positif juga belum membaik. Hari kedua isolasi pun kami mendapat kabar duka dari om suami yang meninggal saat isolasi mandiri rumah. Kami pun tidak bisa banyak membantu karena kondisi kami juga tidak memungkinkan. Jangankan membantu, mengeluarkan emosi sedih saja tidak bisa saya lakukan karena kepala saya akan langsung terasa sakit. Jadi sebisa mungkin saya mencari pengalihan.



ISOLASI HARI KE 4 - 6


Gejala yang kami rasakan:


Anak-anak hanya terkadang batuk di pagi hari selebihnya mereka tidak menunjukkan gejala apapun. Hari ke 4 Keluhan suami bertambah yaitu anosmia. Saya sendiri mendadak demam 39.5 C di hari ke 4 ditambah batuk dan sakit tenggorokan yang terasa semakin parah. di hari ke 6 isolasi saya mulai mengalami anosmia.



Pada hari ke 4 isolasi saya mendapat kabar bahwa suami dari adik saya (tinggal bersama orang tua saya) positif covid setelah semalaman batuk dan demam. Di hari itu, mulai muncul rasa khawatir saya dengan anggota keluarga lain di rumah orang tua. Hari ke 4 - 6 ini rasanya stamina betul - betul terkuras habis. Saya dan suami merasa sangat cepat lelah. Suami bahkan tidak bisa beranjak dari kasur dan membantu saya.

  
 

Dalam kondisi seperti itu, menyiapkan makanan untuk kami makan, menyuapi anak-anak, memandikan anak - anak  dan memberi mereka obat tetap harus dilakukan karena usia mereka yang masih kecil belum memungkinkan mereka untuk melakukannya sendiri. Rumah pun sebisa mungkin tetap harus dalam keadaan bersih mengingat adik yang masih dalam fase oral suka memasukkan benda-benda yang ia temukan ke dalam mulut. Khawatir bisa menyebabkan anak-anak diare jika rumah dalam keadaan kotor. Alhamdulillah anak-anak sudah tidak ada gejala jadi mereka lebih sering main berdua sementara kami istirahat.



ISOLASI HARI KE 7 - 9


Gejala yang kami rasakan:


Suami masih batuk pilek, namun pegal - pegal sudah hilang. Penciuman suami juga sudah mulai kembali pada hari ke 8. Anak - anak sudah tidak ada gejala sama sekali. Sedangkan saya merasa sangat amat cepat lelah. anosmia dan tidak bisa merasakan rasa makanan sehingga nafsu makan hilang dan terasa mual setiap kali makan. Radang tenggorokan juga semakin parah. Nafas pendek karena setiap kali tarik nafas dalam selalu batuk. Batuknya pun bukan batuk kering melainkan batuk berdahak tapi sulit untuk mengeluarkan dahaknya.


 

3 hari ini merupakan hari terberat untuk saya. Mengingat saya punya penyakit maag dan makan saya sangat sedikit karena mual, saya jadi tidak berani mengkonsumsi vitamin C karena khawatir maag saya akan kambuh. Kondisi saya yang sedang menyusui membuat saya lebih cepat lapar dan haus. Ditambah adik Kenzie lebih suka tidur diatas saya pada saat DBF kadang membuat nafas saya terasa lebih berat. Obat - obatan seperti obat batuk, antibiotik dan anti virus sudah habis. Alhasil saya melakukan konsultasi online untuk mendapatkan obat-obat tambahan. Saturasi oksigen saya pun sempat di angka 93 dan 94. Sesering mungkin saya melakukan posisi proning untuk meningkatkan kadar oksigen.   Untungnya suami sudah mulai membaik jadi bisa membantu memandikan anak / menyuapi anak dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. meskipun terkadang anak tidak mandi pagi / sore saking capeknya kita.



ISOLASI HARI KE 10 - 14


Gejala yang kami rasakan:


Suami sudah mulai fit. Hanya tinggal flu ringan dan batuk sesekali.  Anak-anak sudah tidak bergejala. Saya sendiri sudah tidak radang, Nafas sudah mulai normal, batuk sudah jauh lebih baik. Anosmia pun sudah mulai hilang dan lidah sudah mulai bisa merasakan makanan sehingga nafsu makan sudah kembali dan sudah bisa mengkonsumsi vit C. 



Di hari  ke 10 - 14 ini alhamdulillah stamina sudah mulai membaik. Walupun masih ada sedikit gejala dan stamina masih belum pulih 100%. Saya sendiri merasakan manfaat minum vitamin C yang benar2 membooster imun saya. Mengingat sampai hari ke 9 saya takut mengkonsumsinya dan belakangan baru tau ada vitamin C yang aman untuk penderita maag. Oiya, kami juga merayakan idul Adha saat islasi mandiri. Untungnya banyak keluarga dan rekan - rekan yang dapat membantu untuk memesankan hewan qurban sehingga kami tidak perlu repot



ISOLASI HARI KE 15 - 21



Yap. kami mengisolasi diri sampai hari ke 21. Alasannya karena di hari ke 15 saya dan suami masih terkadang batuk dan flu ringan. Staminapun semakin hari semakin baik. Kami sudah bisa mulai WFH. Mengurus pekerjaan rumah dan anak-anak pun tidak seberat hari - hari sebelumnya. Di hari hari ini pun kami masih menerima kiriman makanan dari teman-teman. Hari ke 21 kami melakukan PCR untuk keperluan kantor. sayangnya hasilnya masih positive. tapi setelah berkonsultasi dengan dokter umum dan dokter anak secara online, kami sudah bisa menyelesaikan masa isolasi kami karena dianggap sudah tidak menularkan dan di hari ke 21 sudah tidak ada gejala. Alhamdulillah . . .


Kurang dari 2 minggu setelah PCR ke 2, saya melakukan PCR lagi sebaai persyaratan kantor. Alhamdulillah hasilnya sudah negative.


PELAJARAN BERHARGA



Suami bukan tipe yang akan lsg ke dokter ketika sakit. Dia akan memilih istirahat terlebih dahulu dan minum obat. Sedangkan saya semenjak pandemi menjadi orang yang paling rewel di keluarga ketika ada yang sakit. Saya setuju dengan suami saya untuk tidak parno berlebihan dengan covid. Tapi bukan berarti kita harus abaikan protokol kesehatan. Apalagi jika sudah muncul gejala. Tidak ada salahnya untuk mengenakan masker di dalam rumah, mengisolasi diri sementara, menjaga jarak dengan orang lain atau langsung ke dokter untuk konsultasi. Paling tidak saat seperti ini kita harus punya rasa untuk peduli dengan orang lain. Teruma keluarga sendiri yang seharusnya jadi prioritas untuk kita lindungi.

 


Covid memang benar-benar mengajarkan kita untuk hidup lebih bersih dan lebih peduli dengan sesama manusia. Sebelum pandemi, jika ada yang batuk / flu jarang sekali ada yang sadar untuk mengenakan masker agar tidak menularkan orang sekitar, sekarang kita semua dipaksa untuk selalu menenakan masker dimana pun. Sebelum pandemi, beberapa dari kita ada yang merasa risih dan menertawakan orang2 yang berpakaian menutup seluruh tubuhnya dan mengenakan niqab, sekarang baju hazmat menjadi baju paling aman untuk menghidar dari virus. Sebelum pandemi, kita sering mengganggap orang -orang terlalu bersih adalah orang - orang berlebihan. Sekarang kita harus sadar dan bertindak yang sama. Karena bisa jadi mereka sudah merasakan kehilangan orang-orang terkasih akibat virus ini atau mungkin kita sendiri yang pernah mengalaminya? Naudzubillah. 


Salam Sayang,








Created by Anisyah Surya. Powered by Blogger.