Sunday, August 8, 2021

OUR COVID JOURNEY PART #1 (GEJALA DAN CERITA)

Bulan Juli 2021 merupakan bulan yang paling melalahkan sepanjang tahun ini. Berita tentang kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia, penuhnya RS dan RSDC wisma atlet, tenaga kesehatan yang kewalahan menangani pasien, antrian di depo pengisian oksigen, ditambah dengan berita-berita hoax yang seakan tidak mau ketinggalan untuk meramaikan. Mendengarkan semua berita itu saja sudah cukup menguras emosi ditambah kami sekeluarga harus mengalaminya sendiri. Tertular covid - 19.



GEJALA AWAL



Dimulai dari suami yang mendadak batuk pilek dan demam setelah seharian pergi. Setelah minum obat yang ada di rumah dan istirahat demamnya hilang namun masih tampak meriang. Keesokan harinya pak suami lebih memilih untuk membeli obat di apotek ketimbang langsung cek ke dokter. 2 hari kemudian Qodarullah saya ikut demam dan batuk. Akhirnya saya memaksa suami untuk ke dokter. Di dokter kami di diagnosis ISPA dan dokter menyarankan antigen 2 hari kemudian karena khawatir hasilnya akan negative palsu karena masa inkubasi virus. Malam harinya, Kakak Rey demam tinggi dan mendadak batuk. Disusul adik 2 hari kemudian yang ikut demam tepat di hari kami dijadwalkan antigen. Kecurigaan saya semakin besar dan terbukti dengan hasil antigen saya dan suami yang positif.



SEDIH, PANIK, DAN BINGUNG


Masih di RS, Setelah dapat hasil antigen positive, sambil menunggu dipanggil oleh dokter umum, Shock, sedih, marah dan bingung bercampur jadi satu. Pikiran saya seketika bercabang ke banyak hal. Mencari tes PCR yang bisa mengeluarkan hasil cepat (saat itu banyak RS dan lab yang overload, RS yang kami datangi bisa mengeluarkan hasil PCR paling cepat 3 hari), Memastikan kami sudah mendapat obat-obatan yang tepat, bagaimana mengabarkan kepada orang tua dan kantor, bagaimana keluarga dan orang-orang yang sempat kontak dengan kita, sudah jam makan siang tapi anak - anak belum makan siang. apa yang harus saya lakukan terlebih dulu? 



Sambil menunggu antrian drive thru PCR saya menelpon teman saya yang sedang isolasi. Disitu akhirnya tangis saya pun pecah walaupun hanya beberapa saat. Sekilas saya membayangkan apa gejala apa saja yang mungkin akan muncul pada saya, suami dan anak-anak. Terlebih jika ternyata orang tua saya ikut tertular. Tapi Saya sadar yang saya butuhkan saat ini bukanlah rasa khawatir melainkan informasi yang sebanyak banyaknya dan pemikiran positif yang sebesar besarnya. 

 

Untungnya saya punya teman - teman dan keluarga yang dekat dan sangat suportif. Teman - teman mengirimkan stok makanan yang seketika memenuhi kulkas kami. Orang tua dan adik-adik saya bergantian mengirimkan makanan dan kebutuhan kami setiaap hari. Keluarga mertua yang juga sedang isoman mengirimkan banyak sekali suplemen herbal yang sangat amat membantu. Para tetangga cluster kecil tempat saya tinggal pun mengirimkan makanan, buah-buahan sembako bahkan cemilan dan susu untuk anak-anak saya. Ketua RT tempat saya tinggal juga sangat membantu dan terlihat sangat santai dan berpengalaman menghadapi warganya yang covid. Rekan kerja di kantor pun banyak yang memberi dukungan, terus memberikan informasi, menanyakan kabar dll. Bahkan art yang setiap hari bekerja di rumah menawarkan untuk tetap masuk membantu saya di rumah. 



ISOLASI HARI KE 1 - 3


Gejala yang kami rasakan:


Suami merasakan batuk, pilek dan pegal - pegal sekujur badan terutama pada pinggang. Kakak Rey sudah tidak demam tapi masih sesekali batuk, terutama pada pagi hari. Adik sempat mencret pada malam pertama tapi Alhamdulillah tidak berlanjut di hari berikutnya. Demamnya juga hanya 2 hari pertama. Saya sendiri di 3 hari awal isolasi merasakan batuk, radang tenggorokan, sangat amat cepat lelah, tidak nafsu makan dan sedikit diare.



Keluarga yang sempat kontak dengan kami langsung melakukan tes antigen saat sehari setelah hasil antigen kami keluar dan alhamdulillah semua dinyatakan negative. Jujur, ini adalah berita yang paling melegakan saat itu. Tapi disisi lain, tante dari suami sedang kesulitan mencari ICU karena mengalami sesak nafas akibat covid. Mertua, adik ipar dan kakak ipar yang positif juga belum membaik. Hari kedua isolasi pun kami mendapat kabar duka dari om suami yang meninggal saat isolasi mandiri rumah. Kami pun tidak bisa banyak membantu karena kondisi kami juga tidak memungkinkan. Jangankan membantu, mengeluarkan emosi sedih saja tidak bisa saya lakukan karena kepala saya akan langsung terasa sakit. Jadi sebisa mungkin saya mencari pengalihan.



ISOLASI HARI KE 4 - 6


Gejala yang kami rasakan:


Anak-anak hanya terkadang batuk di pagi hari selebihnya mereka tidak menunjukkan gejala apapun. Hari ke 4 Keluhan suami bertambah yaitu anosmia. Saya sendiri mendadak demam 39.5 C di hari ke 4 ditambah batuk dan sakit tenggorokan yang terasa semakin parah. di hari ke 6 isolasi saya mulai mengalami anosmia.



Pada hari ke 4 isolasi saya mendapat kabar bahwa suami dari adik saya (tinggal bersama orang tua saya) positif covid setelah semalaman batuk dan demam. Di hari itu, mulai muncul rasa khawatir saya dengan anggota keluarga lain di rumah orang tua. Hari ke 4 - 6 ini rasanya stamina betul - betul terkuras habis. Saya dan suami merasa sangat cepat lelah. Suami bahkan tidak bisa beranjak dari kasur dan membantu saya.

  
 

Dalam kondisi seperti itu, menyiapkan makanan untuk kami makan, menyuapi anak-anak, memandikan anak - anak  dan memberi mereka obat tetap harus dilakukan karena usia mereka yang masih kecil belum memungkinkan mereka untuk melakukannya sendiri. Rumah pun sebisa mungkin tetap harus dalam keadaan bersih mengingat adik yang masih dalam fase oral suka memasukkan benda-benda yang ia temukan ke dalam mulut. Khawatir bisa menyebabkan anak-anak diare jika rumah dalam keadaan kotor. Alhamdulillah anak-anak sudah tidak ada gejala jadi mereka lebih sering main berdua sementara kami istirahat.



ISOLASI HARI KE 7 - 9


Gejala yang kami rasakan:


Suami masih batuk pilek, namun pegal - pegal sudah hilang. Penciuman suami juga sudah mulai kembali pada hari ke 8. Anak - anak sudah tidak ada gejala sama sekali. Sedangkan saya merasa sangat amat cepat lelah. anosmia dan tidak bisa merasakan rasa makanan sehingga nafsu makan hilang dan terasa mual setiap kali makan. Radang tenggorokan juga semakin parah. Nafas pendek karena setiap kali tarik nafas dalam selalu batuk. Batuknya pun bukan batuk kering melainkan batuk berdahak tapi sulit untuk mengeluarkan dahaknya.


 

3 hari ini merupakan hari terberat untuk saya. Mengingat saya punya penyakit maag dan makan saya sangat sedikit karena mual, saya jadi tidak berani mengkonsumsi vitamin C karena khawatir maag saya akan kambuh. Kondisi saya yang sedang menyusui membuat saya lebih cepat lapar dan haus. Ditambah adik Kenzie lebih suka tidur diatas saya pada saat DBF kadang membuat nafas saya terasa lebih berat. Obat - obatan seperti obat batuk, antibiotik dan anti virus sudah habis. Alhasil saya melakukan konsultasi online untuk mendapatkan obat-obat tambahan. Saturasi oksigen saya pun sempat di angka 93 dan 94. Sesering mungkin saya melakukan posisi proning untuk meningkatkan kadar oksigen.   Untungnya suami sudah mulai membaik jadi bisa membantu memandikan anak / menyuapi anak dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. meskipun terkadang anak tidak mandi pagi / sore saking capeknya kita.



ISOLASI HARI KE 10 - 14


Gejala yang kami rasakan:


Suami sudah mulai fit. Hanya tinggal flu ringan dan batuk sesekali.  Anak-anak sudah tidak bergejala. Saya sendiri sudah tidak radang, Nafas sudah mulai normal, batuk sudah jauh lebih baik. Anosmia pun sudah mulai hilang dan lidah sudah mulai bisa merasakan makanan sehingga nafsu makan sudah kembali dan sudah bisa mengkonsumsi vit C. 



Di hari  ke 10 - 14 ini alhamdulillah stamina sudah mulai membaik. Walupun masih ada sedikit gejala dan stamina masih belum pulih 100%. Saya sendiri merasakan manfaat minum vitamin C yang benar2 membooster imun saya. Mengingat sampai hari ke 9 saya takut mengkonsumsinya dan belakangan baru tau ada vitamin C yang aman untuk penderita maag. Oiya, kami juga merayakan idul Adha saat islasi mandiri. Untungnya banyak keluarga dan rekan - rekan yang dapat membantu untuk memesankan hewan qurban sehingga kami tidak perlu repot



ISOLASI HARI KE 15 - 21



Yap. kami mengisolasi diri sampai hari ke 21. Alasannya karena di hari ke 15 saya dan suami masih terkadang batuk dan flu ringan. Staminapun semakin hari semakin baik. Kami sudah bisa mulai WFH. Mengurus pekerjaan rumah dan anak-anak pun tidak seberat hari - hari sebelumnya. Di hari hari ini pun kami masih menerima kiriman makanan dari teman-teman. Hari ke 21 kami melakukan PCR untuk keperluan kantor. sayangnya hasilnya masih positive. tapi setelah berkonsultasi dengan dokter umum dan dokter anak secara online, kami sudah bisa menyelesaikan masa isolasi kami karena dianggap sudah tidak menularkan dan di hari ke 21 sudah tidak ada gejala. Alhamdulillah . . .


Kurang dari 2 minggu setelah PCR ke 2, saya melakukan PCR lagi sebaai persyaratan kantor. Alhamdulillah hasilnya sudah negative.


PELAJARAN BERHARGA



Suami bukan tipe yang akan lsg ke dokter ketika sakit. Dia akan memilih istirahat terlebih dahulu dan minum obat. Sedangkan saya semenjak pandemi menjadi orang yang paling rewel di keluarga ketika ada yang sakit. Saya setuju dengan suami saya untuk tidak parno berlebihan dengan covid. Tapi bukan berarti kita harus abaikan protokol kesehatan. Apalagi jika sudah muncul gejala. Tidak ada salahnya untuk mengenakan masker di dalam rumah, mengisolasi diri sementara, menjaga jarak dengan orang lain atau langsung ke dokter untuk konsultasi. Paling tidak saat seperti ini kita harus punya rasa untuk peduli dengan orang lain. Teruma keluarga sendiri yang seharusnya jadi prioritas untuk kita lindungi.

 


Covid memang benar-benar mengajarkan kita untuk hidup lebih bersih dan lebih peduli dengan sesama manusia. Sebelum pandemi, jika ada yang batuk / flu jarang sekali ada yang sadar untuk mengenakan masker agar tidak menularkan orang sekitar, sekarang kita semua dipaksa untuk selalu menenakan masker dimana pun. Sebelum pandemi, beberapa dari kita ada yang merasa risih dan menertawakan orang2 yang berpakaian menutup seluruh tubuhnya dan mengenakan niqab, sekarang baju hazmat menjadi baju paling aman untuk menghidar dari virus. Sebelum pandemi, kita sering mengganggap orang -orang terlalu bersih adalah orang - orang berlebihan. Sekarang kita harus sadar dan bertindak yang sama. Karena bisa jadi mereka sudah merasakan kehilangan orang-orang terkasih akibat virus ini atau mungkin kita sendiri yang pernah mengalaminya? Naudzubillah. 


Salam Sayang,








2 comments:

  1. Alhamdulillah semua kembali sehat ya Mbak
    Saya pun dan keluarga baru selesai isoman, dan kami pun sudah kembali pulih. Semoga teman-teman yang lain yang juga sedang terpapar covid, diberi kekuatan dan kesabaran selama masa isolasi, dan kembali sehat seperti sedia kala

    ReplyDelete

Created by Anisyah Surya. Powered by Blogger.